Syarat Sah Shalat

Syarat Sah Shalat

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ - Kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya mengetahui syarat-syarat sahnya shalat yang kita lakukan. Karena akan menjadi amalan yang sia-sia jika kita tidak memperhatikan syarat yang sangat penting ini.

Berikut ini syarat sah shalat yang harus kita perhatikan sebelum melakukan ibadah shalat.

1. Masuk Waktu Shalat


Masuk waktu shalat adalah salah satu syarat yang paling penting karena shalat tidak sah jika dilakukan sebelum waktunya atau sesudah waktunya tanpa sebab/halangan. Akan tetapi shalat tetap sah dilaksanakan diluar waktunya jika ada uzur, seperti tidur atau lupa.

Adapun dalil yang menyatakan sarat sah shalat ini dapat diketahui dari ayat Alqur'an surat An-Nisa ayat 103 sebagai berikut :

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“… Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

2. Suci Dari Hadast Kecil dan Hadast Besar

Syarat sahnya shalat selanjutnya adalah suci dari hadast kecil maupun hadast besar.  Adapun yang dimaksud dengan hadast kecil adalah sesuatu yang mewajibkan wudhu, sedangkan hadast besar adalah sesuatu yang mewajibkan mandi. Hal ini didasarkan pada Firman Allah Subhanahuwata'ala dan hadist Rasulullah sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah: 6]


لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُوْرٍ وَلاَ صَدَقَةً مِنْ غُلُوْلٍ

Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci dan Dia tidak menerima sedekah dari hasil ghulul (mencuri harta rampasan perang sebelum dibagi).” (Sahih, HR. Muslim no. 224)

3. Menjauhi Najis

Menjauhi najis maksud nya sebelum shalat kita harus memastikan tidak ada najis ditiga tempat yaitu pakaian, pakaian dan tempat shalat.

a. Kebersihan Pakaian

Menjaga kebersihan pakaian pada saat shalat ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu'alaihi wasalam sebagai berikut :

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى فخَلعَ نَعليهِ فخلعَ النَّاسُ نعالَهُم فلمَّا انصرَف قالَ: لمَ خَلعتُمْ نعالَكُم ؟ قالوا: يا رسولَ اللَّهِ، رأيناكَ خلَعتَ فخَلَعنا قالَ: إنَّ جَبرئيلَ أتاني فأخبرَني أنَّ بِهِما خَبثًا فإذا جاءَ أحدُكُمُ المسجِدَ فليقلِب نعليهِ فلينظُر فيهما خبثٌ؟، فإن وجدَ فيهما خبثًا فليمسَحهما بالأرضِ، ثمَّ ليصلِّ فيهما


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika sedang shalat beliau melepas sandalnya. Maka para makmum pun melepas sandal mereka. Ketika selesai shalat Nabi bertanya, ‘mengapa kalian melepas sandal-sandal kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘wahai Rasulullah, kami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun mengikuti engkau.’ ‘(Adapun aku,) sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkanku bahwa pada kedua pasang sandalku terdapat najis. Maka jika salah seorang dari kalian mendatangi masjid, hendaknya ia lihat bagian bawahnya apakah terdapat najis Jika ada maka usapkan sandalnya ke tanah, lalu shalatnya menggunakan keduanya’” (HR. Al-Hakim 1/541, Abu Daud no. 650, Ibnu Hibban no. 2185, Al-Hakim menyatakan shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, Al-Albani dalam Shahih Abu Daud menyatakan Shahih).

Dari hadis tersebut dapat dipetik pelajaran bahwa kita tidak boleh mengenakan pakaian yang terdapat najis ketika shalat.

b. Kebersihan Tempat

Dalil akan kebersihan tempat shalat ini dapat ditemui dalam Surah Al-Hajj ayat 26 sebagai berikut :

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإبْرٰهِيْمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَّا تُشْرِكْ بِيْ شَيْئًا وَّطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَالْقَائِمِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

Artinya : "Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud".

Demikian pula dengan dalil dari salah satu hadist dibawah ini menunjukan kewajiban kita untuk menjaga kebersihan tempat shalat :

Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami: 'Umar bin Yunus Al-Hanafi menceritakan kepada kami: 'Ikrimah bin 'Ammar menceritakan kepada kami: Ishaq bin Abu Thalhah menceritakan kepada kami: Anas bin Malik menceritakan kepadaku – beliau adalah pamannya Ishaq – beliau berkata: Ketika kami tengah berada di dalam masjid bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang arab badui. Lantas ia berdiri kencing di dalam masjid. Para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: Tahan! Berhenti! Anas berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian hentikan dia! Biarkan dia!” Maka para shahabat membiarkannya sampai selesai kencing. Kemudian sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilnya lalu mengatakan, “Sesungguhnya masjid ini tidak boleh sedikitpun dari kencing dan kotoran. Masjid hanyalah untuk dzikir kepada Allah 'azza wa jalla, shalat, dan membaca Al-Qur`an.” Atau sebagaimana yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan. Anas berkata: Lalu beliau memerintahkan salah seorang shahabat untuk mengambil seember air kemudian diguyurkan di tempat kencing itu (Shahih Muslim hadits nomor 285)

c. Kebersihan Badan

Mengenai kebersihan badan ini terdapat didalam Firman Allah dalam Alquran Surah Al-maidah Ayat 6 yang sudah ada diatas. 

4. Menutup Aurat

Syarat sah shalat yang keempat adalah menutup aurat, hal ini didasarkan pada Firman Allah didalam Alqur'an Surat Al-A'raf ayat 31 :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ 
Artinya : "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan"

Selain itu terdapat sabda Nabi Shalallahu'alaihiwasalam sebagai berikut :

لاَ يَقْبَلُ الله صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِحِمَارٍ.
Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah haidh (baligh) kecuali dengan mengenakan penutup kepala (jilbab) [Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 534)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/345 no. 627), Sunan at-Tirmidzi (I/234 no. 375) dan Sunan Ibni Majah (I/215 no. 655)]

5. Menghadap Kiblat

Persyaratan untuk menghadap ke kiblat pada saat shalat ini didasarkan pada firman Allah sebagai berikut :
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya : "Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk,” (QS al-Baqarah [2]: 150)

Juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang buruk dalam shalatnya:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِعِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ.

Jika engkau hendak shalat, maka berwudhu’lah dengan sempurna. Kemudian menghadaplah ke Kiblat…[Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/36 no. 6251)], Shahiih Muslim (I/298 no. 397)]

6. Niat

Hendaklah orang yang ingin shalat meniatkan dan menentukan shalat yang hendak ia kerjakan dengan hatinya, misalnya seperti (meniatkan) shalat Zhuhur, ‘Ashar, atau shalat sunnahnya. Tidak disyari’atkan mengucapkannya karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkannya. Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk shalat, beliau mengucapan, “Allaahu Akbar,” dan tidak mengucapkan apa pun sebelumnya. Sebelumnya beliau tidak melafazhkan niat sama sekali, dan tidak pula mengucapkan, “Aku shalat untuk Allah, shalat ini, menghadap Kiblat, empat raka’at, sebagai imam atau makmum.” Tidak juga mengucapkan, “Tunai atau qadha’…”

Demikian Sahabat muslim, jadi kesimpulan yang kita dapatkan pada kesempatan ini adalah adanya syarat sah shalat yang kita lakukan antara lain :
a. Masuk waktu shalat
b. Suci baik dari hadast kecil maupun besar
c. Suci dari najis baik dalam badan kita, dalam pakaian yang kita kenakan maupun tempat shalat
d. Menutup aurat
e. Menghadap ke kiblat
f. Niat.

Semoga bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Syarat Sah Shalat"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel